SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, SEMOGA BERMANFAAT, KUNJUNGI TERUS BLOG INI
0
Posted by Rangga Krisma Putra on 09.58
REAKSI-REAKSI KIMIA
DAN
STOIKIOMETRI
I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Untuk memahami berbagai reaksi kimia berdasarkan perubahan yang terjadi.
2. Untuk mengetahui karakteristik tiap tipe reaksi kimia.

3. Untuk menentukan stoikiometri reaksi kimia berdasarkan sifat fisik yang teramati
pada reaksi kimia.
II. TEORI DASAR
Reaksi Kimia: dimana satu atau atau lebih zat berubah menjadi zat-zat baru yang
sifat-sifatnya berbeda dibandingkan dengan zat-zat penyusunnya sebelumnya.
Reaksi kimia secara umum dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu reaksi
asam-basa dan reaksi redoks. Secara garis besar, terdapat perbedaan yang mendasar
antara kedua jenis reaksi tersebut, yaitu pada reaksi redoks terjadi perubahan bilangan
oksidasi (biloks), sedangkan pada reaksi asam-basa tidak ada perubahan biloks. Kedua
kelompok reaksi kimia ini dapat dikelompokkan ke dalam 4 tipe reaksi: Sintesis,
Dekomposisi, Penggantian Tunggal, dan Penggantian Ganda. Reaksi Sintesis: reaksi dimana dua atau lebih zat membentuk suatu zat tunggal dalam
suatu reaksi kimia (=reaksi kombinasi, reaksi komposisi).
o Unsur +Unsur → Senyawa , misal: Fe + S → FeS
o Senyawa + Senyawa → Seny.yangLebihKompleks , misal: 2 2 2 3 SO + H O → H SO Reaksi Dekomposisi: reaksi yang menghasilkan dua atau lebih zat yang terbentuk dari
suatu zat tunggal.
o Senyawa → DuaAtauLebihZatYangLebihSederhana , misal: 2 2 2 2H O → 2H + O Reaksi Penggantian Tunggal (Single Replacement): reaksi dimana suatu unsur
menggantikan unsur lainnya, misal: 2 2 2Na + 2H O → 2NaOH + H Reaksi Penggantian Ganda (Double Replacement): reaksi dimana ion-ion positif dari
dua senyawa saling dipertukarkan, misal: 2 2 4 2 4 Mg(OH) + H SO → 2H O + MgSO
Stoikiometri beberapa reaksi dapat dipelajari dengan mudah, salah satunya dengan
metode JOB atau metode Variasi Kontinu, yang mekanismenya yaitu dengan dilakukan
pengamatan terhadap kuantitas molar pereaksi yang berubah-ubah, namun molar totalnya
sama. Sifat fisika tertentunya (massa, volume, suhu, daya serap) diperiksa, dan
perubahannya digunakan untuk meramal stoikiometri sistem. Dari grafik aluran sifat fisik
terhadap kuantitas pereaksi, akan diperoleh titik maksimal atau minimal yang sesuai titik
stoikiometri sistem, yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyawa.
Perubahan kalor pada reaksi kimia bergantung jumlah pereaksinya. Jika mol yang
bereaksi diubah dengan volume tetap, stoikiometri dapat ditentukan dari titik perubahan
kalor maksimal, yakni dengan mengalurkan kenaikan temperatur terhadap komposisi
campuran.
III. CARA KERJA
Percobaan 1
Bagian I
Pertama-tama 5 mL larutan tembaga (II) sulfat (CuSO4) ditempatkan
dalam tabung reaksi bersih, lalu ditambahkan sepotong logam magnesium (Mg) ke
dalamnya. Hasil reaksi segera setelah penambahan Mg serta hasil reaksi setelah 5
menit setelahnya diamati dengan seksama. Langkah selanjutnya, 5 mL larutan asam
hidroklorida (HCl) ditempatkan dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan sekeping
logam seng (Zn) ke dalamnya. Setelah itu, hasil reaksi segera setelah penambahan
Zn serta hasil reaksi 5 menit setelahnya diamati lagi dengan seksama. Berikutnya, 5
mL larutan perak nitrat (AgNO3) ditempatkan dalam tabung reaksi, lalu
ditambahkan sepotong logam tembaga (Cu). Hasil reaksi segera setelah
penambahan Cu serta hasil reaksi setelah 5 menit setelahnya diamati lagi dengan
seksama. Ketiga reaksi di atas dibandingkan dan diklasifikasikan tipe reaksinya,
lalu persamaan reaksi yang terjadi dituliskan pada lembar pengamatan.
Bagian II
Larutan barium klorida (BaCl2) sebanyak 3 mL dituangkan ke dalam
tabung reaksi, lalu ditambahkan larutan natrium sulfat(Na2SO4) sebanyak 3 mL,
kemudian diamati. Selanjutnya, 5 mL larutan timbal nitrat 0,1 M (Pb(NO3)2)
dituangkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan larutan kalium iodida 0,1 M
(KI) sebanyak 5 mL,kemudian diamati. Kedua reaksi di atas dibandingkan dan
diklasifikasikan tipe reaksinya, lalu persamaan reaksi yang terjadi dituliskan pada
lembar pengamatan.
Bagian III
Padatan tembaga (II) sulfat pentahidrat (CuSO4.5H2O) sebanyak 1 sendok
spatula dimasukkan bersamaan dengan 1 sendok padatan KI ke dalam tabung
Erlenmeyer. Labu digoyangkan, lalu diamati. Berikutnya, beberapa butir
CuSO4.5H2O dilarutkan di dalam sekitar 5 mL air dalam tabung reaksi. Di tempat
terpisah, beberapa butir KI juga dilarutkan dalam 5 mL air dalam tabung reaksi
yang lain. Setelah itu, larutan CuSO4 .5H2O dituangkan ke dalam tabung reaksi
berisi larutan KI, lalu diamati. Kedua prosedur di atas dibandingkan, dibuat
kesimpulannya, lalu diklasifikasikan tipe reaksinya.
Bagian IV
Percobaan ini dilakukan di lemari asam. Larutan 3 % hidrogen peroksida
(H2O2) dimasukkan dengan hati-hati ke dalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan seujung sendok kecil KI, lalu diamati dan diklasifikasikan tipe
reaksinya, serta ditentukan apakah reaksi tersebut endoterm atau eksoterm.
Bagian V
Larutan kalium kromat (K2CrO4) 0,1 M masing-masing sebanyak 1 mL
dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi. Larutan HCL 1 M ditambahkan ke dalam
tabung pertama, dan ke dalam tabung lainnya ditambahkan larutan NaOH 1 M.
Kedua larutan disimpan untuk dibandingkan dengan larutan pada prosedur
selanjutnya. Larutan kalium dikromat (K2Cr2O7) 0,1 M masing-masing sebanyak 1
mL dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi, lalu diperlakukan seperti prosedur
sebelumnya. Kedua larutan dari prosedur yang pertama dan kedua dibandingkan
dan ditarik kesimpulanya.
Bagian VI
Ke dalam campuran 1 mL asam oksalat (H2C2O4) 0,1 M dan 2 tetes H2SO4
2 M diteteskan larutan KMnO4 0,05 M tetes demi tetes sambil dikocok. Larutan
KMnO4 diteteskan terus hingga warnanya tidak hilang lagi. Selanjutnya, ke dalam 1
mL larutan besi(II)(Fe2+) dan 2 tetes H2SO4 2 M diteteskan larutan KMnO4 0,05 M
sambil dikocok. Kecepatan laju hilangnya warna KMnO4 pada prosedur pertama
dibandingkan dengan kecepatan laju hilangnya warna KMnO4 pada prosedur kedua
lalu diklasifikasikan kelompok reaksinya.
Percobaan 2
Bagian I: Stoikiometri CuSO4-NaOH
Larutan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan CuSO4 1 M
dan larutan NaOH 2 M. Larutan NaOH sebanyak 40 mL dimasukan ke dalam gelas
kimia dan dicatat temperaturnya. Kemudian, larutan CuSO4 sebanyak 10 mL
ditambahkan ke dalamnya sambil diaduk. Temperatur larutan CuSO4 harus diatur
dengan sama dengan temperature larutan NaOH dalam gelas kimia. Percobaan ini
diulangi dengan menggunakan 20 mL larutan NaOH dan 30 mL larutan CuSO4, 10
mL larutan NaOH dan 40 mL larutan CuSO4, serta 30 mL larutan NaOH dan 20 mL
larutan CuSO4.
Bagian II: Stoikiometri Asam Basa
Larutan NaOH 1 M dimasukkan berturut-turut sebanyak 5, 10, 15, 20, 25,
dan 30 mL ke dalam 5 buah gelas kimia. Selain itu, larutan HCl 1 M dimasukkan
pula berturut-turut sebanyak 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 mL ke dalam 5 buah gelas
kimia. Temperatur dari tiap macam larutan diukur, dicetak, kemudian diambil harga
rata-ratanya (TM). Setelah itu kedua macam larutan ini dicampurkan dengan
sedemikian rupa, sehingga volume campuran larutan asam dan basa ini selalu tetap
yaitu 30 mL. Perubahan temperatur yang terjadi selama pencampuran ini diamati
dan dicatat sebagai temperatur akhir (TA). T dihitung dengan rumusan T = TA – TM.
Dengan demikian diperoleh harga T untuk setiap kali pencampuran larutan asam
dan basa selanjutnya. Setelah itu, dibuat grafik antara T (sumbu Y) dan volume
asam basa (sumbu X) sehingga dapat ditentukan stoikiometri reaksi asam basanya
dari grafik tersebut.
Percobaan yang sama dilakukan terhadap campuran NaOH 1 M dan
H2SO4 1 M, setelah itu diamati perbedaannya dan dibandingkan terhadap percobaan
sebelumnya.
IV. DATA PENGAMATAN
a. Reaksi kimia
Bagian I
No. Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1 CuSO4(aq) + Mg(s) Larutan CuSO4 berwarna biru, Mg berwarna perak, sedangkan
MgSO4 tidak berwarna (bening). Setelah dimasukan Mg ke dalam
larutan selama ±5 menit, terdapat lapisan endapan hitam yaitu
endapan Cu disertai gelembung-gelembung kecil.
2 HCl(aq) + Zn(s) Larutan HCL tidak berwarna (bening), Zn berwarna abu-abu.
Setelah Zn dimasukan ke dalam larutan HCL hanya terbantuk
gelembung-gelembung kecil saja, dan tidak terjadi perubahan warna
3 AgNO3(aq) + Cu(s) Larutan AgNO3 tidak berwarna (bening), logam Cu berwarna merah
kecoklatan . Setelah logam Cu dimasukan ke dalam larutan AgNO3
dan diamati beberapa menit ,menghasilkan endapan berbentuk
kristal berwarna perak.
Bagian II
No. Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1 BaCl2(aq) + Na2SO4(aq) Setelah kedua larutan dicampurkan,terjadi perubahan warna dari
bening menjadi putih keruh dan lama kelamaan terbentuk endapan
putih dan larutan diatasnya menjadi putih kapur. Pada reaksi ini
terjadi perubahan suhu.
2 Pb(NO3)2(aq) + 2KI(aq) Setelah kedua larutan dicampurkan, terjadi perubahan warna larutan
menjadi berwarna kuning. Setelah agak lama terbentuk endapan
kuning dan larutan di atas endapan menjadi kuning. Pada reaksi ini
terjadi perubahan suhu.
Bagian III
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1 CuSO4.5H2O(s) + KI(s) KI padat sebelumnya berwarna putih, CuSO4.5H2O awalnya
berwarna biru. Setelah dicampurkan, KI padat berubah warna
menjadi coklat lalu hitam kecoklatan. Sedangkan CuSO4 menjadi
berwarna perak. Perubahan warna menunjukkan terjadinya reaksi.
2 CuSO4.5H2O(aq) +
KI(aq)
Larutan CuSO4 berwarna biru, larutan KI berwarna putih. Setelah
kedua larutan dicampurkan terdapat perubahan warna menjadi
coklat di bagian atas larutan dan lama-kelamaan terdapat endapan
berwarna kuning.
3 Kesimpulan kedua Persamaan reaksi:
prosedur 4KI(aq) + 2CuSO4 (aq) 2K2SO4(aq) + 2CuI(s) + I2(s)
Tipe reaksi : reaksi penggantian ganda
Bagian IV
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1 H2O2(aq) + KI Larutan berwarna bening setelah dimasukan padatan KI terbentuk
larutan berwarna kekuningan dan menghasilkan gelembunggelembung
gas. Setelah beberapa menit, warna kuning memudar dan
gelembung gasnya hilang.
Bagian V
 Prosedur Persamaan Reaksi dan Pengamatan
K2Cr2O4(aq)+ HCl
2 K2Cr2O4(aq) + 2HCl(aq) K2Cr2O7(aq) + 2KCl(s) + H2O(l)
Kuning Bening Oranye
1
K2Cr2O4(aq)+ NaOH
K2CrO4(aq) + NaOH(aq) tidak terjadi reaksi
Kuning Bening Kuning
K2Cr2O7(aq)+ HCl
K2Cr2O7(aq) + HCl(aq) tidak terjadi reaksi
Oranye Bening Oranye
2K2Cr2O7 +NaOH
K2Cr2O7(aq) + 2NaOH(aq) 2K2CrO4(aq) + H2O(l) + 2Na(s)
Oranye Bening Kuning
Bagian VI
No Prosedur Persamaan Reaksi dan Pengamatan
1 H2C2O4(aq) +H2SO4(aq) +
2MnO4-(aq) + 5(COO) + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O
KMnO4(aq) Larutan H2C2O4+H2SO4 jernih,setelah ditambah KMnO4 langsung
berwarna ungu. Tetapi lama kelamaan berwarna agak merah muda.
Fe2+ + MnO4- + 8H+ Mn2+ + 5Fe3+ + 4H2O
2 Fe2+(aq) +
H2SO4(aq) +
KMnO4(aq)
Larutan Fe2+ + H2SO4 jernih. Setelah ditambahkan 9 tetes KMnO4 terjadi
endapan merah kecoklatan.
b. Stoikiometri
Bagian I : Stoikiometri Sistem CuSO4 – NaOH
Larutan CuSO4 berwarna biru sedangkan larutan NaOH tidak berwarna (bening).
Bagian II : Stoikiometri Asam-Basa
Pada pencampuran NaOH dan HCl, baik larutan NaOH maupun larutan HCl tidak
berwarna (bening). Setelah pencampuran tidak terjadi perubahan warna, namun
terjadi perubahan suhu. Pada pencampuran NaOH dan H2SO4, baik larutan NaOH
maupun larutan H2SO4 tidak berwarna (bening). Setelah pencampuran juga tidak
terjadi perubahan warna, namun terjadi perubahan suhu.
VI. PEMBAHASAN
PERCOBAAN 1
Bagian I :
�� No. 1: CuSO4 + Mg → MgSO4 + Cu (reaksi penggantian tunggal dan redoks)
Reaksi ini dapat terjadi karena terdapat perbedaan potensial reduksi yang cukup
signifikan antara logam-logam yang bereaksi pada reaksi kimia (dalam hal ini
yaitu Cu dan Mg). Potensial reduksi Cu jauh lebih besar daripada Mg, sehingga
logam Cu lebih mudah mengalami reduksi daripada Mg. Ini dapat kita lihat pada
deret volta, bahwa logam Cu jauh berada di kanan Mg. Karena itu, logam yang
potensial reduksinya lebih besar akan mengendap.
�� No. 2: 2HCl + Zn → ZnCl2 + H2 (reaksi penggantian tunggal dan redoks)
Reaksi ini dapat terjadi karena adanya perbedaan kelarutan antar senyawa (Ksp)
sehingga senyawa yang kelarutannya lebih kecil mengendap.
�� No. 3: 2 AgNO3+Cu→Cu(NO3)2 + 2Ag (reaksi penggantian tunggal dan redoks)
Reaksi ini dapat terjadi karena adanya perbedaan kelarutan antar senyawa (Ksp)
sehingga senyawa yang kelarutannya lebih kecil mengendap
Bagian II :
�� No. 1: BaCl2 + Na2SO4 → BaSO4 + 2NaCl (reaksi penggantian ganda)
Reaksi ini dapat terjadi karena ion positif Ba2+ dan Na+ melakukan reaksi silang
sehingga menjadi 2 senyawa baru.
�� No. 2: PbNO3 + KI → PbI + KNO3 (reaksi penggantian ganda)
Reaksi ini dapat terjadi karena ion positif Pb+ dan K+ melakukan reaksi silang
sehingga menjadi 2 senyawa baru
Bagian III :
Tipe Reaksi : Reaksi Penggantian Ganda, Dekomposisi dan Redoks
Reaksi penggantian ganda : 4KI + 2CuSO4 → 2K2SO4 + 2CuI2
Reaksi dekomposisis : 2CuI2 → 2Cu + I2
Reaksi ini dapat terjadi karena adanya pereaksi pembatas yaitu KI.
Bagian IV:
Reaksi Dekomposisi dan Autoredoks
H2O2 (aq) + I-
(aq) → 2H2O (l) + IO-
(aq)
H2O2 (aq) + IO-
(aq) → H2O (l) + O2 (g) + I-
(aq)
Reaksi ini dapat terjadi karena terbentuk 2 zat baru dari satu zat tunggal dan
reaksi yang terjadi adalah reaksi eksoterm. Hal ini terbukti dengan meningkatnya
suhu dari tabung reaksi tempat reaksi terjadi. Dengan kata lain, reaksi ini
merupakan reaksi eksoterm karena menghasilkan kalor. Reaksi ini disebut juga
reaksi dekomposisi karena pada akhirnya H2O2 menghasilkan H2O dan O2,
sedangkan I- hanya berfungsi sebagai katalis saja.
Bagian V:
Reaksi Asam Basa
(2K2CrO4 (aq) + 2HCl → K2Cr2O7 + H2O + 2KCl)
(K2CrO4 (aq) + NaOH → tidak ada reaksi yang terjadi)
(K2Cr2O7 (aq) + HCl → tidak ada reaksi yang terjadi)
Pada pengamatan, tidak ditemukan perubahan untuk reaksi
(K2CrO4 (aq) + NaOH)
(K2Cr2O7 (aq) + HCl)
Dapat disimpulkan, terjadi reaksi metatesis yang tidak menghasilkan endapan.
Dengan kata lain, semua ion-ion pada larutan ini telah terdisosiasi dan hanya
menjadi ion-ion spektator.
(K2CrO4 (aq) + 2NaOH(aq) → Na2CrO4 + 2KOH)
2K+
(aq) + CrO4
2-
(aq)+2Na+
(aq)+2OH-
(aq) →2K+
(aq) + 2OH-
(aq) +2Na+
(aq)+ CrO4
2-
(aq)
Tipe reaksi : reaksi pergantian ganda
Bagian VI
1. 5H2C2O4 + 3H2SO4 + 2KMnO4 → 10CO2 + 2MnSO4 + 8H2O + K2SO4
Larutan H2C2O4 dan H2SO4 berwarna jernih bening. Setelah ditetesi KMnO4 3
tetes, warna berubah menjadi ungu. Selang waktu, warna ungu tersebut akan
pudar dan menjadi warna peach muda.
2. Fe2+ + H2SO4 + KMnO4 → 5Fe3+ + Mn2+ + 4H2O
Larutan Fe2+ dan H2SO4 berwarna jernih dan bening. Setelah ditetesi KMnO4
sebanyak kurang lebih 11 tetes, terdapat endapan cokelat merah pada larutan
(yaitu berupa karat, Fe3+).
PERCOBAAN 2
Pada percobaan II (stoikiometri) bagian 2, percobaan ini dilakukan untuk mencari
titik stoikiometri Asam-Basa. Berdasarkan data, titik stoikiometri dicapai pada
saat volume kedua larutan sama, sehingga setelah pengolahan data, bisa
didapatkan perbandingan koefisien reaksi dari kedua zat adalah sama yaitu 1 : 1.
VII. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di atas, dapat disimpulkan bahwa
setiap reaksi kimia dapat dikelompokkan kedalam 4 tipe, yaitu; reaksi sintesis,
dekomposisi, penggantian tunggal, dan penggantian ganda (metatesis).
Dengan percobaan yang dilakukan pada percobaan 2, dapat diketahui titik
stoikiometri suatu reaksi. Misalnya pada percobaan stoikiometri 1 antara NaOH dan
CuSO4 dapat diketahui titik stoikiometrinya berdasarkan grafik yang dibuat antara
volume (boleh volume NaOH ataupun CuSO4) dan perubahan suhu yang menyertai
reaksi tersebut. Begitu pula dengan reaksi stoikiometri yang lain, yaitu stoikiometri asam
basa.

0 Comments

Poskan Komentar

MATERIKU

Copyright © 2009 Semua Tentang Kimia dan Umum All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.