SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, SEMOGA BERMANFAAT, KUNJUNGI TERUS BLOG INI
0

RANCANGAN SENDIRI PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

Posted by Rangga Krisma Putra on 01.25
KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN ELEKTROLIT DAN
NON ELEKTROLIT












TUJUAN:
1.      Menentukan dan membandingkan kenaikan titik didih larutan elektrolit biner, terner dan larutan non elektrolit dengan berbagai konsentrasi.
2.      Mengetahui bagaimana pengaruh konsentrasi dan kenaikan titik didih larutan elektrolit kuat terhadap harga α dalam factor van’t hoff.

DASAR TEORI:
Suatu larutan mendidih pada temperatur lebih tinggi dari pelarutnya, selisihnya disebut kenaikan titik didih larutan. Peralihan wujud suatu zat ditentukan oleh suhu dan tekanan, contohnya air pada tekanan 1 atm, mempunyai titik didih 1000C dan titik beku 00C. Jika air mengandung zat terlarut yang sukar menguap, maka titik didihnya akan lebih besar dari 1000C dan titik bekunya lebih kecil dari 00C. Perbedaan itu disebut dengan kenaikan titik didih (∆Tb) dan penurunan titik beku (∆Tf) (Rosenberg, 1992 : 284).
Suhu dimana cairan mendidih dinamakan titik didih. Jadi, titik didih adalah temperatur dimana tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer. Selama gelembung terbentuk dalam cairan, berarti selam cairan mendidih, tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer, karena tekanan uap adalah konstan maka suhu dan cairan yang mendidih akan tetap sama. Penambahan kecepatan panas yang diberikan pada cairan yang mendidih hanya menyebabkan terbentuknya gelembung uap air lebih cepat. Cairan akan lebih cepat mendidih, tapi suhu didih tidak naik. Jelas bahwa titik didih cairan tergantung dari besarnya tekanan atmosfer. Lebih besar tekanan atmosfer, lebih tinggi suhu yang diperlukan untuk memberikan tekanan uap yang dapat menandinginya. Titik didih pada 1 atm (760 mmHg) dinamakan sebagai titik didih normal (Brady, 1999 : 540).
Pendidihan merupakan hal yang sangat khusus dari penguapan. Pendidihan adalah pelepasan cairan dari tempat terbuka ke fase uap. Suatu cairan dikatakan mendidih pada titik didihnya, yaitu bila suhu dimana tekanan uap cairan sama dengan tekanan atmosfer sekitarnya. Pada titik didih, tekanan uap cairan cukup besar sehingga atmosfer dapat diatasi hingga gelembung uap dapat terbentuk dipermukaan cairan yang diikuti penguapan yang terjadi di setiap titik dalam cairan. Pada umumnya, molekul dapat menguap bila dua persyaratan dipenuhi, yaitu molekul harus cukup tenaga kinetik dan harus cukup dekat dengan batas antara cairan-uap (Petrucci, 2000 : 175). Kesetimbangan heterogen yang diperhatikan ketika membahas pendidihan adalah antara uap larut pelarut dalam larutan.

                Bila dalam larutan biner, komponen suatu mudah menguap (volatile) dan komponen lain sukar menguap (non volatile), makin rendah. Dengan adanya zat terlarut tekanan uap pelarut akan berkurang dan ini mengakibatkan kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan tekanan uap osmose. Keempat sifat ini hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut dan tidak ditentukan oleh jenis zat terlarut. Seperti telah disebutkan, sifat-sifat ini disebut sifat koligatif larutan.
Adanya zat terlarut (solute) yang sukar menguap (non volatile), tekanan uap dari larutan turun dan ini akan menyebabkan titik didih larutan lebih tinggi dari pada titik didih pelarutnya. Ini disebabkan karena untuk mendidih, tekanan uap larutan sama dengan tekanan udara dan untuk temperatur harus lebih tinggi (Sukardjo, 1990 : 152).
Sejauh ini kita selalu menganggap bahwa pelarut dan terlarutnya volatil. Tetapi jenis larutan penting lainnya adalah zat yang terlarutnya tidak volatil. Ada zat terlarut (solvent) yang sukar menguap (non volatile) tekanan uap dari larutan turun dan ini akan menyebabkan titik didih larutan lebih tinggi daripada titik didih pelarutnya. Ini disebabkan karena untuk mendidih, tekanan uap larutan harus sama dengan tekanan udara luar dan untuk itu temperatur harus lebih tinggi (Petrucci, 1999 : 101).
Apabila zat padat yang tidak mudah menguap dilarutkan dalam pelarut, maka
tekanan uap akhirnya akan turun sehingga titik didih larutan akan naik dan titik bekunya
akan turun dibandingkan dengan pelarut murni. Untuk larutan ideal, menurut Raoult kenaikan titik didih sebanding dengan jumlah zat terlarut dan dapat ditunjukkan dengan hubungan:

 

∆Tb = m. Kb                                                        ∆Tb = kenaikan titik didih (0C)
                                                                                m = molalitas     (m)
                                                              

Persamaan di atas hanya berlaku untuk larutan non elektrolit, karena dalam air larutan non elktrolit tidak dapat terionisasi sehingga dalam air tetap sebagai molekulnya tanpa terionisasi.

Perlu dicatat bahwa dalam merumuskan hukumnya, Raoult tidak memperhitungkan pengaruh ion yang terdapat dalam larutan. Oleh karena itu Hukum raoult hayna berlaku pada larutan yang tidak mengandung ion. (larutan non elektrolit).
            Ketika Svente August arhenius mengembangkan teori ion, barulah diketahui bahwa ion-ion dalam larutan elektrolit ternyata ikut mempengaruhi harga ∆Tb larutan itu. Oleh karena itu Hukum Raoult tidak berlaku bagi larutan elektrolit. Zat elektrolit jika dilarutkan dalam air akan terurai menjadi ion-ion penyusunnya sehingga jumlah partikel larutan elektrolit akan lebih banyak daripada partikel larutan nonelektrolit dengan konsentrasi yang sama. Bagi larutan elektrolit, yang berlaku adalah hokum yang dirumuskan oleh Jacobus Henricus van’t Hoff, yaitu dengan cara mengalikan rumus yang ada dengan suatu bilangan yang disebut dengan factor Van’t Hoff, besarnya factor Van’t Hoff dirumuskan dengan :
       i = 1 + ( n-1 )α                 
jadi persamaan kenaikan titik didih untuk larutan elektrolit menjadi :
∆Tb = m. Kb. I                          n = jumlah ion dari elektrolit
                                                α = derajat ionisasi elektrolit
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1.      Sehubungan dengan jumlah ion (n), kita mengenal beberapa istilah :
a.       Elektrolit biner : memiliki 2 ion (n=2), misalnya : NaCl, CuSO4, KNO3, dsb.
b.      Elektrolit terner : memiliki 3 ion (n=3), misalnya : Ca(OH)2, Na2CO3, BaCl2, dsb.
c.       Elektrolit kuartener : memiliki 4 ion (n=4), misalnya : FeCl3, AlCl3, dsb.
2.      Makin besar harga n, makin besar pula harga kenaikan titik didihnya.
3.      Makin besar harga α (makin kuat elektrolit), makin besar pula harga kenaikan titik didihnya.
4.      Pada konsentarsi yang sama, larutan elektrolit selalu memiliki harga ∆Tb yang lebih besar dibandingkan dengan larutan nonelektrolit.



PERALATAN YANG DIGUNAKAN :
1. Gelas piala                           6. Neraca timbang
2. Termometer                         7. Korek api
3. Tabung reaksi                      8. Gelas ukur
4. Bunsen                                9. Pipet volume
5. Pengaduk


BAHAN-BAHAN YANG DIGUNAKAN :
1. Sukrosa atau gula.
2. Kristal NaCl
3. Kristal MgCl2 atau Na2CO3
4. akuades.

PROSEDUR PERCOBAAN:
1. Keringkan alat -alat yang akan digunakan.
2. Membuat larutan Sukrosa dengan konsntrasi masing-masing 0,1 m, 0,2 m, dan 0,3 m 
3. Membuat larutan NaCl dengan konsntrasi masing-masing 0,1 m, 0,2 m, dan 0,3 m.
4. Membuat larutan MgCl2 dengan konsntrasi masing-masing 0,1 m, 0,2 m, dan 0,3 m.
5. panaskan masing-masing larutan yang terdiri dari berbagai konsentrasi diatas Bunsen hingga mendidih.
6. amati terus dan catat suhu larutan saat mendidih.
7.Masukkan aquades kira-kira 100 ml ke dalam gelas kimia, panaskan hingga mendidih, ukur titik didihnya ( sebagai titik didih pelarut murni ) .
8. Amati dan bandingkan bagaimana kenaikan titik didih larutan elektrolit dan nonelektrolit, serta amati pengaruh besarnya konsentrasi terhadap kenaikan titik didh larutan.
9. Hitung harga α berdasarkan masing-masing konsentrasi larutan elektrolit dari data ∆Tb dari hasil percobaan.
10. Gambarkan semua data yang dihasilkan dari percobaan menggunakan grafik dengan absisi konsentarsi molal masing-masing larutan dan ordinat kenaikan titik didihnya (∆Tb)

DATA PENGAMATAN
Larutan
Konsentrasi (m)
∆Tb (0C)
Harga  α
Sukrosa
0,1

0

0,2

0

0,3

0
NaCl
0,1



0,2



0,3


MgCl2 atau Na2CO3
0,1



0,2



0,3



0 Comments

Poskan Komentar

MATERIKU

Copyright © 2009 Semua Tentang Kimia dan Umum All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.